Pagi itu
kami melakukan studi banding ke sekolah tinggi agama budha kertajsa batu
malang,di awal perjalanan kami pun sudah di sambut oleh hujan yang deras namun
hal tersebut tidaklah mengurungkan niat
kami Pagi itu
kami melakukan studi banding ke sekolah tinggi agama budha kertajsa batu
malang,di awal perjalanan kami pun sudah di sambut oleh hujan yang deras namun
hal tersebut tidaklah mengurungkan niat
kami wal
walaupun kami di buat terlambat
olehnya.
walaupun kami di buat terlambat
olehnya.
Jam di
hpku menunjukan pukul 01.00 ketika kami
sampai disana kami pun segera mencari tempat sholat/musholla namun kerana tidak
ada mushollanya(maklum lah sekolah agama budha) maka kami terpaksa mencari di
luar.ketika kami datang kami di sambut dengan baik dan ramah oleh biksu muda agung praseto seorang yg kurus dan
usianya sebaya dengan kami.kami pun di buat terkagum dengan akhlaq mereka dan
membuat kami malu ketika di atas mimbar kami mendakwahkan menyeru dan menghapal
dalil dalil akan keutamaaan akhlaq tapi tapi ternyata kami kecolongan justru
umat beragama non muslim lah yang
mengamalkan ajaran agama kami.
Kemudian
kami memasuki sebuah ruangan kelas yg bersih dan nyaman bahkan tak ada
sebungkuspun sampah yg berserakan kami di beri penjelasan tentang agama budha
dari sumbernya yg asli kalau selama ini kami hanya mendengarnya dari qila wa
qola(dari katanya) yg cenderung menutup-nutupi dan menjelekan ajaranya namun
kin kami mengetahui nya dari orang yang benar-benar pakar di dalamnya(banthe
jaya medho) walaupun su bjektifitas tetap ada,tapi setidaknya kita telah
mengetahuinya dari orang yg pakar atau orang yg mempunyai rekomendasi untuk
itu.
Beliau
merumuskan bahwa rukun iman budha setidaknya ada tiga :
1.Kami
berlindung kepada budha
2.kami
berlindung pada sangha
3.kami
berlindundung pada dhamma
Agama
budha adalah agama yang tidak menekankan ritualistik namun agama ini lebih
menekankan pada sesuatu yg bershifat bathiniah/rohani,oleh kerana itu kita
tidak mengenal yg namanya halal dan haram dalam agama budha bagi seorang budhis
apa yang membahayakan kita adalah haram dan
yang menguntungkan atau membahagiakan kita adalah halal,manausia sendiri
diartikan sebagai pikiran yang luhur(mano:pikiran dan usa : luhur),bahkan budha
pun memberikan kebabasan berpikir dan menyerahkan segala sesuatu nya kepada
manusia.
“jangan
percaya pada apapun(kitab suci,mitos bahkan sang budha sendiri) tapi pikirkan
dulu”[1]
Siddhartha Gautama, pencetus
utama ajaran budha. Sang Buddha (berarti “yang telah sadar” dalam bahasa
Sanskerta dan Pali). Sang Buddha hidup dan mengajar di bagian timur anak benua
India dalam beberapa waktu antara abad ke-6 sampai ke-4 SM. Beliau
dikenal oleh para umat Buddha sebagai seorang guru yang telah sadar atau
tercerahkan yang membagikan wawasan-Nya untuk membantu makhluk hidup mengakhiri
ketidaktahuan/kebodohan (avidyā), kehausan/napsu rendah (taṇhā), dan
penderitaan (dukkha), dengan menyadari sebab musabab saling bergantungan dan
sunyatam dan mencapai Nirvana (Pali: Nibbana).
Setiap aliran Buddha berpegang kepada tripitaka(tiga keranjang) sebagai
rujukan utama karena dalamnya tercatat sabda dan ajaran Buddha Gautama selama
45 tahun beliau berdakwah. Pengikut-pengikutnya kemudian mencatat dan
mengklasifikasikan ajarannya dalam 3 buku yaitu Sutta Piṭaka (kotbah-kotbah Sang Buddha) terdiri atas 33 juz/bagian, Vinaya Piṭaka (peraturan atau tata tertib para bhikkhu) terdiri dari 5
juz/bagian dan Abhidhamma Piṭaka (ajaran hukum
metafisika dan psikologi) yang berisi 7 juz/bagian.
Tidak seperti agama samawi(abrahamic religion) Dalam mendefinisikan tuhan
budha sendiri tidak pernah memberikan julukan/sebutan untuk tuhan adapun kerana
agama budha sangat adaptif sehingga mudah tercampurnya berbagi macam ajaran dan
agama yang bersentuhan denganya yg sebenarnya tidak pernah di ajarkan sang
budha maka pengikutnya mulai menyebut tuhan mereka dengan sang hyang adi
buhdha,thatagatta dan lain sebagainya,budha hanya menyebutkan bahwa tuhan itu mutlak.
“Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang yang
artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan
dan Yang Mutlak".[2]
Ketika itu waktu menunjukan pukul 4.00 maka banthe pun berniat mengakhiri
acara ini namun karena pada waktu itu hujan lebat maka banthe pun mengurungkan
niatnya serta membuka sesi tanya jawab.seorang di antara kami mengawali
pertanyaanya dengan karma ? kemudian banthe menjelaskan bahwa Bila kita
mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci
Tripitaka, maka bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep
Ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak konsep lain yang tidak sama pula.
Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain
antara lain adalah konsep-konsep tentang penciptaan, kehidupan
manusia di alam semesta, kiamat dan Keselamatan atau Kebebasan.
Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan
(anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana satu makhluk tidak perlu lagi mengalami proses kelahiran
kembali/reinkarnasi. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain
tidak ada pengaruhnya. Tidak ada dewa - dewi yang dapat membantu, hanya dengan
usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru
pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai
pencerahan rohani, dan melihat kebenaran & realitas sebenar-benarnya.
Sesudah itu bante pun menutup forum
ini dan kami di ajak untuk berkeliling-keliling kampus serta di beri kesempatan
bertanya apa saja kemudian acara kami tutup dengan saling memberi
cinderamata,mungkin bagi sebagian orang studi
banding ini dianggap suatu yg aneh atau tabau tapi bagi kami merupakan
pengalaman yang berharga,kerana kita tidak boleh menutup diri kita terhadap
apapun yang mana sikap ketertutupan kita terhadap sesuatu akan semakan membodohkan
kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar