Sabtu, 04 Oktober 2014

Budha : Agama zuhud



Pagi itu kami melakukan studi banding ke sekolah tinggi agama budha kertajsa batu malang,di awal perjalanan kami pun sudah di sambut oleh hujan yang deras namun hal tersebut  tidaklah mengurungkan niat kami Pagi itu kami melakukan studi banding ke sekolah tinggi agama budha kertajsa batu malang,di awal perjalanan kami pun sudah di sambut oleh hujan yang deras namun hal tersebut  tidaklah mengurungkan niat kami walDSCN0492.JPGwalaupun kami di buat terlambat olehnya.
Jam di hpku menunjukan pukul  01.00 ketika kami sampai disana kami pun segera mencari tempat sholat/musholla namun kerana tidak ada mushollanya(maklum lah sekolah agama budha) maka kami terpaksa mencari di luar.ketika kami datang kami di sambut dengan baik dan ramah oleh  biksu muda agung praseto seorang yg kurus dan usianya sebaya dengan kami.kami pun di buat terkagum dengan akhlaq mereka dan membuat kami malu ketika di atas mimbar kami mendakwahkan menyeru dan menghapal dalil dalil akan keutamaaan akhlaq tapi tapi ternyata kami kecolongan justru umat beragama non muslim lah yang  mengamalkan ajaran agama kami.
Kemudian kami memasuki sebuah ruangan kelas yg bersih dan nyaman bahkan tak ada sebungkuspun sampah yg berserakan kami di beri penjelasan tentang agama budha dari sumbernya yg asli kalau selama ini kami hanya mendengarnya dari qila wa qola(dari katanya) yg cenderung menutup-nutupi dan menjelekan ajaranya namun kin kami mengetahui nya dari orang yang benar-benar pakar di dalamnya(banthe jaya medho) walaupun su bjektifitas tetap ada,tapi setidaknya kita telah mengetahuinya dari orang yg pakar atau orang yg mempunyai rekomendasi untuk itu.
Beliau merumuskan bahwa rukun iman budha setidaknya ada tiga :
1.Kami berlindung kepada budha
2.kami berlindung pada sangha
3.kami berlindundung pada dhamma
Agama budha adalah agama yang tidak menekankan ritualistik namun agama ini lebih menekankan pada sesuatu yg bershifat bathiniah/rohani,oleh kerana itu kita tidak mengenal yg namanya halal dan haram dalam agama budha bagi seorang budhis apa yang membahayakan kita adalah haram dan  yang menguntungkan atau membahagiakan kita adalah halal,manausia sendiri diartikan sebagai pikiran yang luhur(mano:pikiran dan usa : luhur),bahkan budha pun memberikan kebabasan berpikir dan menyerahkan segala sesuatu nya kepada manusia.
“jangan percaya pada apapun(kitab suci,mitos bahkan sang budha sendiri) tapi pikirkan dulu”[1]

Siddhartha Gautama, pencetus utama ajaran budha. Sang Buddha (berarti “yang telah sadar” dalam bahasa Sanskerta dan Pali). Sang Buddha hidup dan mengajar di bagian timur anak benua India dalam beberapa waktu antara abad ke-6 sampai ke-4 SM. Beliau dikenal oleh para umat Buddha sebagai seorang guru yang telah sadar atau tercerahkan yang membagikan wawasan-Nya untuk membantu makhluk hidup mengakhiri ketidaktahuan/kebodohan (avidyā), kehausan/napsu rendah (taṇhā), dan penderitaan (dukkha), dengan menyadari sebab musabab saling bergantungan dan sunyatam dan mencapai Nirvana (Pali: Nibbana).
Setiap aliran Buddha berpegang kepada tripitaka(tiga keranjang) sebagai rujukan utama karena dalamnya tercatat sabda dan ajaran Buddha Gautama selama 45 tahun beliau berdakwah. Pengikut-pengikutnya kemudian mencatat dan mengklasifikasikan ajarannya dalam 3 buku yaitu Sutta Piṭaka (kotbah-kotbah Sang Buddha) terdiri atas 33 juz/bagian, Vinaya Piṭaka (peraturan atau tata tertib para bhikkhu) terdiri dari 5 juz/bagian dan Abhidhamma Piṭaka (ajaran hukum metafisika dan psikologi) yang berisi 7 juz/bagian.
Tidak seperti agama samawi(abrahamic religion) Dalam mendefinisikan tuhan budha sendiri tidak pernah memberikan julukan/sebutan untuk tuhan adapun kerana agama budha sangat adaptif sehingga mudah tercampurnya berbagi macam ajaran dan agama yang bersentuhan denganya yg sebenarnya tidak pernah di ajarkan sang budha maka pengikutnya mulai menyebut tuhan mereka dengan sang hyang adi buhdha,thatagatta dan lain sebagainya,budha hanya  menyebutkan bahwa tuhan itu mutlak.
“Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang yang artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak".[2]
Ketika itu waktu menunjukan pukul 4.00 maka banthe pun berniat mengakhiri acara ini namun karena pada waktu itu hujan lebat maka banthe pun mengurungkan niatnya serta membuka sesi tanya jawab.seorang di antara kami mengawali pertanyaanya dengan karma ? kemudian banthe menjelaskan bahwa Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci Tripitaka, maka bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang penciptaan, kehidupan manusia di alam semesta, kiamat dan Keselamatan atau Kebebasan.
Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana satu makhluk tidak perlu lagi mengalami proses kelahiran kembali/reinkarnasi. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya. Tidak ada dewa - dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat kebenaran & realitas sebenar-benarnya.
Sesudah itu bante pun menutup forum ini dan kami di ajak untuk berkeliling-keliling kampus serta di beri kesempatan bertanya apa saja kemudian acara kami tutup dengan saling memberi cinderamata,mungkin bagi sebagian orang studi  banding ini dianggap suatu yg aneh atau tabau tapi bagi kami merupakan pengalaman yang berharga,kerana kita tidak boleh menutup diri kita terhadap apapun yang mana sikap ketertutupan kita terhadap sesuatu akan semakan membodohkan kita.



[1] Agutara nikaya 111-65
[2] Udana VIII : 3,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar