Kitab kuning merupakan julukan ataupun gelar yang di alamatkan pada
“kitab berbahasa arab” oleh masyarakat awam beberapa kalangan bahkan
menganggapnya sebagai penghinaan dan perendahan terhadap kitab-kitab berbahasa
arab.agar lebih sopan kelompok yang menolak istilah pemakaian kitab kuning ini
mengusulkan untuk menggantinya dengan istilah “kitab klasik” untuk merujuk pada
kitab-kitab berbahasa arab.
Semenjak periode arabisasi[i]
pada masa bany umayyah,hingga paruh abad ke 20 an kitab kuning masih menjadi
refrensi di segala bidang mulai dari sosiologi hingga filsafat semua ada dan
tertulis dalam kitab kuning namun kini kitab kuning tak lebih hanya simbol tradisi intelektual di lingkungan
pesantren. Ia menjadi wahana penyebaran ajaran Islam yang dirumuskan para ulama
masa lalu, kepada para pelajar di masa kini.
Ia
semakin tergerus oleh zaman dengan munculnya berbagai macam buku –buku terjemahan,memang
bagus dan mudah di pahami terutama bagi mereka yang kurang paham atau bahkan
tak kenal bahasa arab,bukan berarti saya melarang buku terjemahan tapi alangkah
baiknya jika kita mampu untuk membacanya sendiri alangkah asiknya dan bangganya
kita bila kita sendiri bisa memahami ucapan Rosululloh shollallohu alaihi wa
sallam bukankah dalam masalah ilmu kita tak boleh dan tak kenal kata “PUAS”.
Wah trus gimana nih kalau tak kenal puas
berarti atas dasar nafsu donk ?
Ya
gak gitu juga tafsiranya mas lagian Tuhan sendiri kok yang merintahkan itu[ii]
Allohu
Ta’ala Robbuna berfirman :
Alloh
Ta’ala telah menyatakan bahwa Tiada Tuhan selain Dia demikian juga para
malaikat dan Orang –orang yang ahli ilmu..”.
Imam
nawawi al bantani rohmatulloh alaim (w.1896 M) menjelaskan ma’na ayat ini
dengan fi’il amr renungkanlah bagaimana Alloh Ta’ala memmulai dengan Dzat Alloh
Ta’ala sendiri yang kedua dengan malaikat-malaikatnya yang ketika dengan ahli
ilmu maka cukuplah bagimu kemuliaan dan keutamaan ( undzur kaifa badaa Allohu
Ta’ala binafsihi watsana bilmalaikatihi wal tsalis bil ahli ilmi wa nahiyka
bihadza sarfan wa fadlan)
Salah
satu ciri ahli ilmu adalah yang Tidak kenal kata “PUAS” dalam mencari ilmu para
ulama pun biasa melakukan rihlah ilmiah lihatlah Imam Muhammad Idris assyafi’I
Rohmatulloh alaihim (ayoo siapa dia ? ? ?) beliau biasa melakukan rihlah ilmiah
ke madinah iraq mekkah dll. Ucapan beliau yg sangat terkenal adalah man dzonna
aliman faqod jahilan siapa (yg puas dengan satu ilmu) menyangka diri alim maka
dialah sebenarnya orang yg bodoh.
Masak ndak boleh baca buku terjemah ?
Boleh
boleh aja bahkan harus bagi mereka yg
kurang mengerti bahasa arab ( termasuk saya hehehe) tapi kita tak boleh terlena
dengan terjemahan itu,dan mengandalkanya dalam maktabah syamilah terdapat
20.000 jilid kitab karya-karya ulama besar rugi donk kalau tak bisa baca.
Kalau boleh di golongkan terjemahan kitab ada
berbagai 2 macam versi(mungkin lebih tepat model) sebelum tahun 1950 an amat langka dalam menemukan terjemahan kitab
kuning dalam tulisan dan latin mungkin
ustadz sulaiman rasyid Rohimahullohu Ta’ala adalah orang yang pertama kali
menerjemahkan(lebih tepatnya mengarang) sebuah Kitab fiqh dalam bahasa
indonesia dengan huruf latin sebelumnya kitab kuning atau buku-buku agama di
tulis dan di terjemahkan dengan mengunakan tulisan/font arab melayu kerana
maklum minimnya masyarakat yg bisa baca tulis huruf latin melainkan hanya
beberapa kaum elit,PNS(hindia belanda),dan segelintir kaum terpelajar itupun
dengan bahasa belanda jadi ketika itu jadi nenek moyang kita buta huruf latin
tapi melek huruf arab bisa di katakan 80% dari Kitab terjemahan saat ini dengan
menggunakan huruf latin .
Di
jawa penerjemahan kitab kuning menggunakan tulisan arab jawa atau yg lebih di
kenal dengan pego yang mana ia telah menjadi budaya di pesantren-pesantren
tradisonal yang lebih menurut saya lebih mencerdaskan dan mendidik daripada
kitab terjemahan lain,kerana selain mengetahui arti perkalimat kita juga bisa
mengetahui tarkib(susunan kalimat) dengan bahasa yg sebagai tanda yakni utawi
untuk mubtada ikhu(khobar) sopo(fail) dll.(tentunya bagi mereka yang memahami
bahasa jawa).namun sayang di indonesia lagi-lagi hanya sedikit orang yg bisa
membacanya dan mengkajinya padahal ini merupakan kekayaan intelektual sekaligus
budaya identitas keislaman kita.Wallohulhadi.
[i]
Yakni pada masa penerjemahan kitab – kitab yunani kedalam bahasa arab
[ii]
Dalam qur’an di sebutkan fasalu ahladdizkri in kuntum la ta’lamun afwan saya
lupa ayatnya dan belum ketemu nyarinya insha alloh akan ada revisi artikel ini
dan tentunya kita bertanya kepada orang lain bukan untuk mengucapkan dan
mengulangi kata-katanya tapi sebagai refrensi agar anda bisa “membuka kepahaman
anda dan nalar kita” inilah bentuk ketidak puasan ahli ilmi yakni dengan
senantiasa muroja’ah ,menelaah dan menganalisa swatu ilmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar