Sabtu, 04 Oktober 2014

Kitab Kuning Nasibmu kini



Kitab kuning merupakan julukan ataupun gelar yang di alamatkan pada “kitab berbahasa arab” oleh masyarakat awam beberapa kalangan bahkan menganggapnya sebagai penghinaan dan perendahan terhadap kitab-kitab berbahasa arab.agar lebih sopan kelompok yang menolak istilah pemakaian kitab kuning ini mengusulkan untuk menggantinya dengan istilah “kitab klasik” untuk merujuk pada kitab-kitab berbahasa arab.
Semenjak periode arabisasi[i] pada masa bany umayyah,hingga paruh abad ke 20 an kitab kuning masih menjadi refrensi di segala bidang mulai dari sosiologi hingga filsafat semua ada dan tertulis dalam kitab kuning namun kini kitab kuning tak lebih hanya  simbol tradisi intelektual di lingkungan pesantren. Ia menjadi wahana penyebaran ajaran Islam yang dirumuskan para ulama masa lalu, kepada para pelajar di masa kini.
Ia semakin tergerus oleh zaman dengan munculnya berbagai macam buku –buku terjemahan,memang bagus dan mudah di pahami terutama bagi mereka yang kurang paham atau bahkan tak kenal bahasa arab,bukan berarti saya melarang buku terjemahan tapi alangkah baiknya jika kita mampu untuk membacanya sendiri alangkah asiknya dan bangganya kita bila kita sendiri bisa memahami ucapan Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bukankah dalam masalah ilmu kita tak boleh dan tak kenal kata “PUAS”.
Wah trus gimana nih kalau tak kenal puas berarti atas dasar nafsu donk ?
Ya gak gitu juga tafsiranya mas lagian Tuhan sendiri kok yang merintahkan itu[ii]
Allohu Ta’ala Robbuna berfirman :
Alloh Ta’ala telah menyatakan bahwa Tiada Tuhan selain Dia demikian juga para malaikat dan Orang –orang yang ahli ilmu..”.
Imam nawawi al bantani rohmatulloh alaim (w.1896 M) menjelaskan ma’na ayat ini dengan fi’il amr renungkanlah bagaimana Alloh Ta’ala memmulai dengan Dzat Alloh Ta’ala sendiri yang kedua dengan malaikat-malaikatnya yang ketika dengan ahli ilmu maka cukuplah bagimu kemuliaan dan keutamaan ( undzur kaifa badaa Allohu Ta’ala binafsihi watsana bilmalaikatihi wal tsalis bil ahli ilmi wa nahiyka bihadza sarfan wa fadlan)
Salah satu ciri ahli ilmu adalah yang Tidak kenal kata “PUAS” dalam mencari ilmu para ulama pun biasa melakukan rihlah ilmiah lihatlah Imam Muhammad Idris assyafi’I Rohmatulloh alaihim (ayoo siapa dia ? ? ?) beliau biasa melakukan rihlah ilmiah ke madinah iraq mekkah dll. Ucapan beliau yg sangat terkenal adalah man dzonna aliman faqod jahilan siapa (yg puas dengan satu ilmu) menyangka diri alim maka dialah sebenarnya orang yg bodoh.
Masak ndak boleh baca buku terjemah ?
Boleh boleh aja  bahkan harus bagi mereka yg kurang mengerti bahasa arab ( termasuk saya hehehe) tapi kita tak boleh terlena dengan terjemahan itu,dan mengandalkanya dalam maktabah syamilah terdapat 20.000 jilid kitab karya-karya ulama besar rugi donk kalau tak bisa baca.
 Kalau boleh di golongkan terjemahan kitab ada berbagai 2 macam versi(mungkin lebih tepat model) sebelum tahun 1950 an  amat langka dalam menemukan terjemahan kitab kuning dalam tulisan dan  latin mungkin ustadz sulaiman rasyid Rohimahullohu Ta’ala adalah orang yang pertama kali menerjemahkan(lebih tepatnya mengarang) sebuah Kitab fiqh dalam bahasa indonesia dengan huruf latin sebelumnya kitab kuning atau buku-buku agama di tulis dan di terjemahkan dengan mengunakan tulisan/font arab melayu kerana maklum minimnya masyarakat yg bisa baca tulis huruf latin melainkan hanya beberapa kaum elit,PNS(hindia belanda),dan segelintir kaum terpelajar itupun dengan bahasa belanda jadi ketika itu jadi nenek moyang kita buta huruf latin tapi melek huruf arab bisa di katakan 80%  dari Kitab terjemahan saat ini dengan menggunakan huruf latin .
Di jawa penerjemahan kitab kuning menggunakan tulisan arab jawa atau yg lebih di kenal dengan pego yang mana ia telah menjadi budaya di pesantren-pesantren tradisonal yang lebih menurut saya lebih mencerdaskan dan mendidik daripada kitab terjemahan lain,kerana selain mengetahui arti perkalimat kita juga bisa mengetahui tarkib(susunan kalimat) dengan bahasa yg sebagai tanda yakni utawi untuk mubtada ikhu(khobar) sopo(fail) dll.(tentunya bagi mereka yang memahami bahasa jawa).namun sayang di indonesia lagi-lagi hanya sedikit orang yg bisa membacanya dan mengkajinya padahal ini merupakan kekayaan intelektual sekaligus budaya identitas keislaman kita.Wallohulhadi.

                                                      








[i] Yakni pada masa penerjemahan kitab – kitab yunani kedalam bahasa arab
[ii] Dalam qur’an di sebutkan fasalu ahladdizkri in kuntum la ta’lamun afwan saya lupa ayatnya dan belum ketemu nyarinya insha alloh akan ada revisi artikel ini dan tentunya kita bertanya kepada orang lain bukan untuk mengucapkan dan mengulangi kata-katanya tapi sebagai refrensi agar anda bisa “membuka kepahaman anda dan nalar kita” inilah bentuk ketidak puasan ahli ilmi yakni dengan senantiasa muroja’ah ,menelaah dan menganalisa swatu ilmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar